Kenaikan Permukaan Laut dan Gelombang Panas Laut di Pesisir Indonesia

Kenaikan permukaan laut yang ekstrim (Sea Level Height Extremes/HEXs) merupakan salah satu akibat dari perubahan iklim. Aktivitas antropogenik menjadi salah satu penyebab terjadinya perubahan iklim yang dapat mengakibatkan banjir di seluruh dunia. Kenaikan permukaan laut juga berasal dari alam, seperti badai dan air pasang yang disebabkan oleh variabilitas iklim. Tingginya permukaan laut dan timbulnya gelombang panas dapat menimbulkan banyak masalah dan akan lebih buruk jika muncul kombinasi bencana alam antara laut dan darat, seperti gelombang panas dan kekeringan. Gabungan antara kenaikan permukaan laut yang ekstrim (HEXs) dan gelombang panas dijuluki dengan istilah Compound Height-Heat Extreme (CHHEX). Istilah ini digunakan untuk mengetahui risiko dan interaksinya antara aktivitas antropogenik dan variabilitas iklim untuk memprediksi fenomena ini yang berdampak besar di masa depan.

Indonesia menjadi wilayah uji coba yang digunakan untuk memahami kejadian HEX dan CHHEX karena merupakan negara yang wilayahnya sangat dipengaruhi oleh variabilitas iklim, seperti angin muson, IOD, dan ENSO. Indonesia memiliki variabilitas iklim yang beragam karena terletak di pertemuan antara Samudera Hindia Timur dan Samudera Pasifik Barat yang berada pada warm pool indo-pasifik. 

Sea Level Height Extremes (HEXs)

Sea Level Height Extremes (HEXs) adalah penyimpangan yang signifikan dari permukaan laut rata-rata, yang sering kali didefinisikan oleh anomali permukaan laut rata-rata bulanan (SLA). Fenomena ini sering terjadi saat badai besar dan mengakibatkan banjir di pesisir dan dapat diketahui melalui instrumen untuk mengukur pasang surut. Peristiwa ini dapat menimbulkan risiko terhadap infrastruktur, ekosistem, dan populasi manusia. Pesisir Jawa, misalnya, telah mengalami konsentrasi kejadian HEX yang cukup tinggi antara tahun 2010 dan 2017, yang disebabkan oleh kombinasi kenaikan muka air laut antropogenik dan variabilitas iklim selama beberapa dekade.

Marine Heatwaves

Marine Heatwaves atau gelombang panas laut adalah periode anomali suhu permukaan laut (SST) yang tinggi yang terjadi selama berhari-hari hingga berbulan-bulan dan tergantung musim terjadinya. Peristiwa ini disebabkan akibat dari interaksi antara samudra dan atmosfer lokal, termasuk fluks panas udara-laut dan zontal yang dapat dideteksi dengan mengetahui ambang batas oleh batas termal atas spesies laut (suhu yang membuat biologis menjadi terganggu). Peristiwa ini dapat menyebabkan pemutihan terumbu karang, menurunnya kelimpahan rumput laut, dan kematian pada biota laut yang membuat produktivitas primer pada laut menjadi rendah. Peristiwa ini salah satunya dipengaruhi oleh variabilitas iklim, seperti yang terjadi pada tahun 2015-2016 dimana terjadi El Nino 2015-2016 yang memicu gelombang panas laut yang berkepanjangan di cekungan Indonesia-Australia, yang kemudian ditopang oleh IOD yang negatif.

Compound Height-Heat Extreme (CHHEX)

Peristiwa ini terjadi ketika HEX dan Marine Heatwaves terjadi secara bersamaan. Frekuensi dan intensitas kejadian CHHEX dipengaruhi oleh kenaikan permukaan laut global antropogenik dan variabilitas iklim alami, seperti IOD dan ENSO. Kombinasi antara kenaikan muka air laut antropogenik dan anomali muka air laut dekadal (SLA) secara signifikan berkontribusi terhadap terjadinya peristiwa CHHEX, terutama di wilayah-wilayah seperti pesisir Samudra Hindia di Indonesia. Interaksi antara faktor-faktor ini telah menyebabkan tren kenaikan anomali permukaan laut yang terus-menerus, yang semakin memperburuk dampak kejadian CHHEX.

Faktor-faktor penyebabnya terjadinya CHHEX:

  • Anomali angin

Anomali angin barat khatulistiwa dan angin barat laut lepas pantai dapat meningkatkan downwelling dan upwelling yang mempengaruhi permukaan laut.

  • Iklim

Variabilitas iklim, seperti ENSO dan IOD dapat mempengaruhi fenomena ini. Sebagai contoh, IOD negatif dan La Nina yang terjadi bersamaan dapat melemahkan angin pasat selatan, sehingga mengurangi pendinginan akibat upwelling di pesisir pantai.

  • Antropogenik

Kenaikan ini disebabkan oleh ekspansi termal, pencairan es di daratan, dan penyimpanan air di daratan.

Impact on Coastal Areas in Indonesia

Pesisir Indonesia sangat rentan terhadap kombinasi fenomena ini. Wilayah ini mengalami anomali permukaan laut (SLA) yang terus menerus, yang koheren di sepanjang pesisir Indonesia di Samudra Hindia bagian selatan, termasuk Sumatra bagian selatan, Jawa, dan Nusa Tenggara. Data tide gauge dari berbagai lokasi, seperti pantai Jawa, menunjukkan bahwa SLA konsisten dengan data altimeter satelit, yang mendeteksi kejadian ekstrem yakni HEX. Peristiwa ini ditandai dengan terjadinya gelombang panas laut yang tinggi dan gelombang panas laut, yang telah terjadi secara akut di sepanjang pesisir Indonesia. Faktor-faktor yang memicu terjadinya peristiwa ini akan memperburuk intensitas kejadian HEX dan CHHEX di sepanjang pantai Indonesia.

Writer: Ocean Atmosphere Interaction Bureau

Leave a Reply