Oleh: Dhiya Rahmasari
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia punya peran penting dalam dunia maritim, apalagi dengan letak geografisnya yang strategis. Salah satu upaya Indonesia dalam memperkuat peran itu terlihat saat menjadi ketua Indian Ocean Rim Association (IORA) dari tahun 2015 sampai 2017. IORA adalah organisasi regional yang mewadahi negara-negara di kawasan Samudra Hindia. Waktu memimpin IORA, Indonesia mengangkat tema besar yaitu “Strengthening Maritime Cooperation in a Peaceful and Stable Indian Ocean” atau memperkuat kerja sama maritim dalam Samudra Hindia yang damai dan stabil. Ini menjadi langkah besar yang sejalan dengan visi Indonesia untuk menjadi Poros Maritim Dunia, yang sudah lama digaungkan Presiden Joko Widodo sejak awal pemerintahannya.
Kiprah Indonesia di IORA dan Dampaknya terhadap Poros Maritim Dunia
Saat memimpin IORA, Indonesia benar-benar menunjukkan bagaimana diplomasi maritim itu dijalankan secara nyata, bukan hanya sekadar wacana. Salah satu pencapaiannya adalah lahirnya IORA Concord 2017, sebuah deklarasi penting yang menguatkan komitmen negara-negara anggota untuk menjaga keamanan laut, melawan kejahatan lintas negara, dan membangun ekonomi biru. Lewat forum ini juga, Indonesia berhasil memperkenalkan konsep Blue Economy atau ekonomi biru yang mengedepankan pemanfaatan laut secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan. Inisiatif ini diadopsi sebagai prioritas bersama di IORA. Selain itu, Indonesia juga aktif mendorong kerja sama nyata seperti patroli bersama di Laut Sulu dengan Malaysia dan Filipina lewat program Trilateral Maritime Patrol (Indomalphi), untuk menanggulangi perompakan dan pencurian ikan ilegal.
Setelah Indonesia memimpin Indian Ocean Rim Association (IORA) pada periode 2015–2017, kondisi dan arah kebijakan Poros Maritim Dunia (PMD) mengalami perkembangan yang cukup signifikan, terutama dalam penguatan posisi Indonesia di arena maritim regional dan global. Kepemimpinan ini berhasil meningkatkan citra Indonesia sebagai negara yang bukan hanya mengandalkan posisi geografisnya, tetapi juga aktif membangun kerja sama konkret di bidang keamanan maritim, ekonomi biru, dan pembangunan berkelanjutan. Melalui diplomasi yang aktif di IORA, Indonesia mampu memperluas jejaring mitra strategis di Samudra Hindia, memperkuat pengaruhnya dalam berbagai forum internasional, serta mempercepat implementasi program-program nasional yang terkait dengan PMD, seperti tol laut, modernisasi pelabuhan, dan patroli maritim terkoordinasi.
Dari sisi ekonomi, gagasan ekonomi biru yang diusung dalam IORA mulai tercermin dalam berbagai kebijakan nasional, terutama dalam pengelolaan sumber daya laut secara lebih berkelanjutan. Indonesia semakin serius membangun sektor kelautannya bukan hanya dari sisi perdagangan dan logistik, tetapi juga dalam pengelolaan perikanan, konservasi laut, dan mitigasi perubahan iklim di wilayah pesisir. Selain itu, keberhasilan Indonesia mengusulkan berbagai deklarasi maritim di IORA juga memperkokoh posisi diplomasi Indonesia dalam menyuarakan pentingnya pengelolaan laut berbasis hukum internasional seperti UNCLOS 1982. Hal ini memberikan keuntungan diplomatik ketika Indonesia berhadapan dengan berbagai tantangan sengketa maritim, seperti yang terjadi di Laut Natuna Utara.
Tantangan dalam Mewujudkan Visi Poros Maritim Dunia
Namun, meskipun banyak capaian positif, realisasi penuh visi PMD tetap menghadapi berbagai tantangan serius. Kesenjangan infrastruktur antar wilayah maritim di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Beberapa program tol laut memang memperlancar arus logistik, tetapi ketimpangan layanan dan akses di kawasan timur Indonesia masih terlihat jelas. Dari sisi keamanan, meski patroli maritim terkoordinasi semakin sering dilakukan, ancaman illegal fishing dan kejahatan lintas negara di perairan Indonesia belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Selain itu, dalam konteks geopolitik, kompetisi negara besar di kawasan Indo-Pasifik membuat posisi Indonesia perlu semakin berhati-hati agar tetap menjadi kekuatan penyeimbang tanpa terjebak dalam konflik kepentingan asing.
Secara keseluruhan, setelah memimpin IORA, Indonesia bisa dikatakan berhasil meningkatkan kredibilitasnya sebagai aktor maritim global, tetapi perjalanan menuju terwujudnya sepenuhnya Poros Maritim Dunia masih membutuhkan konsistensi kebijakan, penguatan infrastruktur, peningkatan kapasitas sumber daya manusia kelautan, dan inovasi berkelanjutan. Kepemimpinan di IORA menjadi momentum penting, namun tantangan baru menanti yang harus dihadapi dengan pendekatan yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang.
#MCPRDailyNews










