Perubahan iklim global telah mempengaruhi berbagai aspek lingkungan, termasuk suhu permukaan laut, curah hujan, dan variabilitas iklim di berbagai wilayah di dunia. Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis, sangat rentan terhadap perubahan iklim ini. Studi-studi ilmiah telah dilakukan untuk memahami dampak dari fenomena iklim seperti ENSO dan IOD terhadap kondisi cuaca dan lingkungan di Indonesia. Fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi variabilitas iklim di Indonesia. El Niño dan La Niña, sebagai fase-fase dari ENSO, memiliki dampak signifikan terhadap curah hujan dan tinggi muka laut di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Pantai Utara Jawa Tengah. Pada saat El Nino, permukaan laut di Indonesia atau di Samudera Pasifik Barat mengalami anomali tinggi muka laut negatif. Sedangkan, pada saat La Nina mengalami anomali tinggi muka laut yang positif. ENSO dapat mengubah pola curah hujan yang berdampak pada tinggi muka laut.
Korelasi Antara Indeks Nino 3.4 dengan Curah Hujan
Korelasi nino 3.4 antara curah hujan pada periode DJF menunjukan korelasi negatif di wilayah penelitian, seperti Semarang, Pekalongan, dan Pemalang yang berturut-turut adalah -0.23678, -0.16134, -0.1733. Pada periode MAM, korelasi antara indeks Nino 3.4 dengan curah hujan di wilayah penelitian tergolong rendah, berkisar antara 0,031 – (-0.246). Pada periode JJA, korelasi antara indeks Nino 3.4 dengan curah hujan mulai menguat, tergantung pada wilayahnya, seperti Semarang dan Pemalang memiliki nilai yang menunjukkan nino 3.4 cukup kuat karena letak wilayah kajian terletak di Timur dan wilayah kajian yang letaknya di Barat memiliki nilai yang rendah karena letaknya di Barat. Dan yang terakhir, pada periode SON, korelasi antara indeks Nino 3.4 dengan curah hujan dominan kuat di ketiga wilayah kajian, kecuali Brebes yang memiliki nilai yang tergolong lemah.
Pada musim basah (DJF-MAM) memiliki anomali curah hujan yang positif membuat ENSO relatif tidak terpengaruh terhadap penurunan curah hujan di Indonesia. ENSO yang terjadi pada saat curah hujan sedang ekstrim akan cenderung melemah pada saat periode DJF dan MAM. Anomali curah hujan positif juga dapat disebabkan oleh SPL di Indonesia yang cenderung lebih hangat dibanding rata-ratanya atau SPL mengalami peningkatan selama periode DJF dan MAM. SPL di wilayah Indonesia memiliki hubungan dengan siklus monsun dimana saat periode DJF wilayah bumi bagian selatan (BBS) akan lebih hangat dibanding wilayah bumi bagian utara (BBU), hal ini disebabkan pada musim ini monsun asia sedang aktif dan posisi matahari berada pada BBS. Berbeda dengan periode MAM yang merupakan fase peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau yang pada saat ini SPL di wilayah Indoensia hampir merata dan tidak adanya perbedaan antara BBS dan BBU.
Pada musim kering (JJA-SON), memiliki anomali curah hujan yang negatif yang membuat ENSO terpengaruh terhadap penurunan curah hujan di Indonesia. ENSO memiliki pengaruh paling kuat pada saat periode JJA dan SON. Pada musim ini, angin monsun yang berasal dari Australia akan bertiup searah dengan angin pasat yang berhembus dari Samudera Pasifik Tengah ke Samudera Pasifik Barat melewati wilayah Indonesia. Pada saat periode JJA, BBS memiliki SPL lebih dingin dibandingkan dengan BBU. Hal ini disebabkan karena pada musim ini matahari terletak di BBU yang membuat atmosfer cenderung lebih hangat dan menghangatnya SPL di BBU. Sedangkan, pada saat periode SON, monsun Australia akan melemah dan memiliki pola angin yang kuat pada wilayah penelitian. Pada musim kering, wilayah Semarang dan Pekalongan yang terletak di timur memiliki pengaruh ENSO yang kuat dibandingkan dengan wilayah Pemalang dan Brebes yang memiliki pengaruh ENSO yang lemah. Selain karena letaknya di barat, Brebes memiliki faktor lokal, seperti angin darat-laut dan juga keberadaan Gunung Ciremai yang membuat pembentukan cuaca semakin kompleks sehingga jauh dari jangkauan pengaruh ENSO. Tingginya ENSO akan menurunkan curah hujan dan sebaliknya.
Korelasi Antara Curah Hujan terhadap Anomali Tinggi Muka Laut (TML)
Selama periode DJF, korelasi sangat lemah antara curah hujan dan TML terlihat di hampir semua wilayah, kecuali Semarang yang menunjukkan korelasi positif namun lemah (r = 0,00414). Pada periode MAM, korelasi tetap sangat lemah di semua wilayah (r berkisar antara -0,07096 hingga 0,082365), menandakan curah hujan tidak signifikan mempengaruhi TML. Namun, pada periode JJA, wilayah Semarang menunjukkan korelasi kuat (r = 0,6938), dan Pekalongan serta Pemalang menunjukkan korelasi cukup kuat (r = 0,504053 dan 0,54329), selaras dengan pengaruh ENSO yang meningkat. Pada periode SON, korelasi kuat terlihat di Semarang dan Pekalongan (r = 0,676914 dan 0,602389), sementara Brebes menunjukkan korelasi negatif yang lemah (r = -0,15269). Beberapa faktor lokal seperti profil batimetri dan posisi geografis Brebes yang terletak di barat mempengaruhi nilai korelasi sepanjang tahun. Ketika El Niño dan La Niña berada pada fase kuat, anomali TML mengalami variasi signifikan. El Niño kuat pada November 1997 dan 2015 menyebabkan penurunan TML yang ekstrem, sedangkan La Niña kuat pada Januari 2000 dan 2008 menyebabkan peningkatan TML dan curah hujan. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi atmosfer dan laut regional sangat mempengaruhi variabilitas TML dan curah hujan di Pantai Utara Jawa Tengah.
Anomali Curah Hujan, TML dan SPL Selama tahun 1993 – 2020
Di Semarang, terdapat peningkatan signifikan pada anomali CH pada bulan-bulan tertentu seperti Januari 1993 meningkat sebesar 585 mm/bln dan Januari 2016 meningkat sebesar 362 mm/bln, yang dapat disebabkan oleh i fenomena El Niño yang mempengaruhi pola musim hujan di wilayah ini. Sementara itu, penurunan signifikan terlihat pada Februari 1994 menurun sebesar 219 mm/bln dan Januari 1998 menurun sebesar 243 mm/bln, yang kemungkinan dipengaruhi oleh fase La Niña yang cenderung mengurangi curah hujan.
Pekalongan mencatat peningkatan anomali CH pada Februari 1998 peningkatan sebesar 403 mm/bln dan Februari 2020 peningkatan sebesar 499 mm/bln. Faktor-faktor seperti variabilitas iklim global, termasuk El Niño dan La Niña, serta faktor lokal seperti topografi wilayah, memainkan peran penting dalam fluktuasi ini. Di Brebes, peningkatan anomali CH terlihat pada Januari 2001 menignkat sebesar 366 mm/bln dan Oktober 2015 meningkat sebesar 395 mm/bln, sementara penurunan signifikan tercatat pada Desember 2015 menurun sebesar 303 mm/bln dan Januari 2017 menurun sebesar 339 mm/bln. Faktor global seperti fenomena El Niño dapat mempengaruhi pola curah hujan di Brebes, di mana pengaruh perubahan suhu laut dan sirkulasi atmosfer dapat mengubah pola musim hujan secara drastis.Di Pemalang, peningkatan anomali CH tercatat pada Januari 1997 sebesar 574 mm/bln dan November 2000 sebesar 504 mm/bln, sementara penurunan yang signifikan terjadi pada Maret 1994 sebesar 283 mm/bln dan Maret 2008 sebesar 283 mm/bln. Pola CH ini bisa dipengaruhi oleh perubahan iklim global yang kompleks, termasuk interaksi antara El Niño dan La Niña, serta faktor lokal seperti karakteristik topografi yang mempengaruhi distribusi curah hujan.
Writer : Land-Sea Dynamic Bureau










